Sabtu, 07 Januari 2012

MACAM-MACAM FIRQAH

Kaum Murjiah
Kaum Murjiah Adalah Faham Yang Hanya Mementingkan Niat. Faham Murjiah. Sesuai asal katanya, Murjiah berati menangguhkan, Kaum murjiah adalah kaum yang menagguhkan yaitu kelompok faham dalam islam yang tumbuh dan berkembang pada permulaan abad pertama Hijriah. Faham Murjiah ini timbil sebagai akibat dari terjadinya kekacauan politik dalam dunia Islam pada masa itu seperti :
• Timbulnya Kaum Syiah yang mengkhafirkan orang – orang yang merebut pangkat Khalifah dari Syaidina Ali
• Timbulnya Kaum Khawarij yang menghukum kafir Khalifah Mu’awiyah karena melawan Khalifah yang sah yaitu Khalifah Syaidina Ali
• Faham Kaum Khawarij yang akhirnya juga menghukum kafir Sayidina Ali karena menerima Tahkim dalam peperangan Siffin
• Faham Kaum Mu’awiyah yang menyalahkan orang – orang di pihak Syaidina Ali karena memberontak kepada Syaidina Usman Bin Affan
• Adanya sebagian dari pengikut Syaidina Ali menyalahkan sikap Ummulmukminin ‘ Siti ‘Aisyah ‘, Sahabat Nabi Thalhah dan Sahabat Nabi Zuber yang menggerakkan perlawanan terhadap Syaidina Ali pada perperangan Jamal
Dalam menghadapi situasi kekacauan politik yang telah berkembang dan menjurus kepada perpecahan tersebut, lahirlah sekelompok umat Islam yang menjauhkan diri dari pertikaian politik yang ada dan mereka tidak mau ikut – kutan dan terlibat untuk menyalahkan kelompok – kelompok yang sedang bertikai tersebut.
Mereka tidak mau menghukum kafir dan mereka tidak mau menyalahkan siapa – siapa serta mereka melepaskan diri dari persoalan – persoalan yang ada tersebut. Mereka seolah – olah hanya mau perpangku tangan saja
Ketika ditanya kepada mereka tentang Mu’awiyah dan anaknya Yazid Bin Mu’awiyah, mereka menjawab “ Kita tangguhkan saja persoalannya sampai nanti dihadapan Tuhan dan disitu kita bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah “
Kalau ditanyakan kepada mereka bagaiman pendapatnya tentang kaum Khawarij yang radikal dan kaum Syiah yang lancang, maka mereka akan menjawab “ Sebaiknya kita tangguhkan saja sampai dihadapan Tuhan dan kita lihat nanti bagai mana Tuhan menghukum atau memberi pahala kepada mereka. ”
Kalau ditanya kepada mereka tentang mana yang benar antara Syaidina Usman Bin Affan dan pentang – penentangnya, maka mereka menjawab “ Kita lihat saja nanti dihadapan Tuhan “
Semua persolan mereka tangguhkan sampai kehadirat Tuhan, Karena hanya tuhanlah yang akan memberikan hukuman yang adil atas setiap dosa manusia dan hanya Tuhanlah yang berhak memberikan pahala atas setiap kebaikan yang mereka telah kerjakan. “ Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? ” ( QS : 095 : At Tin : Ayat 08 ). Sehingga mereka tidak melahirkan apa – apa dan mereka hanya berpangku tangan saja. Inilah asal usul dari faham Murjiah
Sepintas lalu, faham Murjiah ini kelihatan sama dengan pendirian yang dilakukan oleh beberapa sahabat Nabi ketika terjadi fitnah pada zaman – zaman akhir kekuasan Syaidina Usman Bin Affan ; Khalifah ketiga, yaitu ketika sekelompok sahabat Nabi seperti Abdullah Bin Umar, Abi Bakarah, Imran Bin Hisein, Muhammad Bin Shalah dan lain – lain.
Para sahabat Nabi tersebut tidak ikut membai’ah atau mengangkat Syaidian Ali dan tidak pula mau ikut menyokong Syaidina Mu’awiyah, mereka lebih suka menjauhkan diri dari persoalan politik yang kacau pada masa itu. Pemahaman mereka bersandar kepada salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Abi Bakarah sendiri yaitu :
“ Dan merawikan Abu Bakarah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “ Akan ada fitnah ( kekacauan ), maka orang yang duduk lebih baik dari yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik dari orang yang ikut berusaha menghidupkan fitnah itu. ( kata nabi Muhammmad SAW ) apabila terjadi fitnah itu, maka yang punya onta kembalilah kepada ontanya, orang yang punya kambing kembalilah kepada kambingnya, orang yang punya tanah kembalilah kepada tanahnya”.
Seorang sahabat bertanya : “ Ya Rasulullah”. Kalau ia tidak punya onta, tak punya kambing, dan tak punya tanah, bagaimana ?
Nabi menjawab : “ Ambillah pedangnya, pecahkan dengan batu mata pedangnya itu dan kemudian carilah jalan lepas kalau mungkin “ ( HR : Bukhari dan Muslim )
Namun Faham Murjiah ini berbeda dengan pemahaman para sahabat yang bersandar pada hadist sahih tersebut.
Pada masa itu, para sahabat tidak membentuk fajam atau mazhab sendiri. Para sahabat memahami bahwa apabila terjadi fitnah diantara umat Islam, maka sikap yang paling baik adalah menjauhkan diri dari fitnah tersebut dan tidak ikut memihak kesana ke mari menambah kekacauan. Dan itiulah faham yang paling aman menurut para sahabat pada masa itu.
Sedangkan orang – orang yang kemudian tergabung dalam Faham Murjiah ini, mereka membentuk suatu faham atau aliran yang walau pada mulanya hanya membenci masalah siasat , politik dan kepeminpinan kemudian merembet kepada soal- soal iman dan soal tauhid dan lain – lain.
Faham Murjiah ini dipimpin oleh Hasan Bin Bilal al Muzni, Abu Salat as Samman yang meninggal pada tahun 152 H dan Tsauban, Dhirar Bin Umar. Sedangkan penyair mereka yang paling terkenal pada masa Bani Umayah adalah Tsabit Bin Quthanan yang telah mengarang sebuah syair tentang i’tiqad dan kepercayaan kaum Murjiah ini
Adapun Inti dari ajaran Kaum Murjiah ini adalah hati yaitu kalau seseorang telah beriman dalam hatinya, sudah mengakui ke-Esa-an Tuhan dan Nabi Muhammmad SAW sebagai Rasul-Nya, maka sekalian perkerjaan dosa tidak memberi mudharat apa –apa kepada iman pelakunya
Dan bahkan Faham Murjiah ini memahami bahwa kalau seseorang sudah melahirkan iman di dalam hatinya, maka tidak apa – apa dia melahirkan Nasrani atau Yahudi dalam perbuatannya. Yang penting niatnya baik. Itulah salah satu inti dari ajaran Kaum Murjiah ( Firqah – Firqah Dalam Islam )


Faham Syi’ah
Abdullah Bin Saba Sang Inisiator Faham Syi’ah. Syi’ah adalah sebuah aliran dalam Islam yang berarti suatu kaum yang ber’iktiqat bahwa saidina Ali Kw adalah orang yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi, karena Nabi berwasiat bahwa pengganti beliau sesudah wafat adalah Saidina Ali, sehingga khalifah – Khalifah yang sebelumnya yaitu Saidina Abu Bakar, Saidina Umar dan Saidina Usman adalah khalifah yang tidak sah.
Kelanjutan dari pemahaman alisan Syiah ini adalah bahwa Saidina Abu Bakar, Saidina Umar dan Saidina Usman adalah para perampok yang penuh dosa karena telah merampas pangkat atau jabatan Khalifah tanpa hak dari Saidina Ali dan orang – orang yang mengakui dan mengikuti kekhalifahan khalifah yang pertama, kedua dan ketiga tersebut adalah orang – orang terkutuk karena tidak mau mengikuti wasiat Nabi.
Aliran ini bermula dari seorang pendeta Yahudi dengan nama Abdullah Bin Saba dari Yaman yang masuk Islam. Abdullah Bin Saba inilah yang kemudian menjadi biang kerok gerakan Syiah dimana pada babak akhir kepemimpinan Khalifah Saidina Usman Bin Affan sekitar tahun 30 Hijriyah, Abdullah Bin Saba pergi ke Madinah dengan harapan bahwa sebagai seorang pendeta besar Yahudi yang masuk Islam, dia akan disambut dengan segenap penghargaan dan kemuliaan dari penduduk Madinah dan Khalifah Usman bin Affan.
Dalam kenyataannya, harapan tersebut tidak menjadi kenyataan, sehingga menimbulkan kekecewaan yang teramat dalam dari Abdullah Bin Saba, sehingga dia mulai membangun gerakan anti Saidina Usman dan berusaha meruntuhkannya dan menggantinya dengan Saidina Ali Kw.
Sebagai catatan perlu disampaikan bahwa sebagian dari ahli sejarah mengatakan bahwa masuknya Abdullah Bin Saba ke dalam Islam adalah dengan tujuan untuk mengacaukan Islam dari dalam, karena mereka tidak sanggup mengacaukannya dari luar.
Dengan memanfaatkan kondisi fisikologis umat yang sudah mulai banyak yang tidak sesuai dengan Saidina Usman karena beliau banyak mengangkat orang – orang dari suku beliau yaitu dari suku Bani Umayyah menjadi pengusaha – pengusaha daerah disamping beliau telah menghilangkan cincin stempel Nabi Muhammad SAW. Usaha Abdullah Bin Saba ini mendapat respon yang baik di kota – kota besar umat Islam seperti Madinah, Mesir, Kufah, Basrah dan kota – kota besar lainnya
Dalam propagandanya, Abdullah Bin Saba sangat berlebih – lebihan dalam memuja dan mengangung – agungkan Saidina Ali, bahkan untuk memperkuat propagandanya, Abdullah Bin Saba ini tidak segan – segan untuk membuat hadist – hadist palsu untuk merendahkan dan menghinakan dan menghukum kafir Saidina Abu Bakar Saidina Umar dan Saidina Usman sebagai Khalifah – Khalifah yang terdahulu.
Propaganda yang dilakukan oleh Abdullah Bin Saba ini jelas sangat bertentangan dengan banyak hadist yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW yang telah menyatakan bahwa para sahabat yang dikafirkan oleh Abdullah Bin Saba itu adalah sahabat – sahabat utama yang telah mendapat hidayah yang diibaratkan sebagai bintang di langit, sehingga yang mana saja yang akan diikuti niscaya kita akan mendapat arah yang benar.
“ Pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khalifah – Khalifah Rasyidin sesudah aku, pegang teguhlah dengan gerahammu “ ( HR : Abu daud dan Tirmizi )
“ Ikutilah dua orang sesudah saya, yaitu Abu Bakar dan Umar “ ( HR : Ahmad dan Tirmizi )
Jadi dengan menghinakan dan mengkhafirkan sahabat – sahabat utama Nabi sebagai mana yang dipropagandakan oleh Abdullah Bin Saba ini jelas sangat bertentangan dengan hadist – hadist tersebut
Dampak lain dari propaganda yang dilakukan Abdullah Bin Saba adalah banyaknya hadit – hadist Rasulullah Muhammad SAW yang akan hilang dan tidak terpakai lagi karena tiga sahabat yang dikafirkan oleh Abdullah Bin Saba ini selain dari kahlifah pemimpin umat belau juga adalah juga pembawa hadist dari Mabi Muhammad SAW
Banyak Sunnah – sunnah Khulafaur Rasyidin yang oleh Rasulullah diperintahkan untuk diikuti, dengan mengikuti propaganda Abdullah Bin Saba ini tidak akan diterima lagi seperti shalat tarawih berjama’ah sebanyak 20 rakaat adalah perintah Saidina Umar, Adzan yang pertama pada hari Jum’at adalah perintah Syaidina Usman serta Mashaf Al -Quran yang sekarang dipakai oleh umat Islam adalah mushaf Syaidina Usman, Jika Saidina Usman adalah orang terkutuk dan khafir tentunya mashaf Al-Qur’an yang sekarang ada tidak terpakai lagi
Berdasarkan keganjilan ajaran yang dipropagandakan oleh Abdullah Bin Saba ini banyak kaum Syi’ah pada saat sekarang ini yang mulai merasa malu dan gerah, sehingga mereka melanjutkan kebohongan yang telah ada dengan mengatakan bahwa Abdullah Bin Saba itu sebenarnya adalah orang yang tidak ada, Abdullah Bin Saba adalah tokoh fiktif yang dibuat – buat oleh golongan yang anti Syi’ah
Dalam hal ini KH Siradjudin Abbas mengatakan bahwa Ibnu Habil Hadid seorang ulama besar dari kaum Syiah yang wafat tahun 656 H“ Syarah Nahjul Balaqah “ secara terang telah mengakui bahwa Abdullah Bin Saba ini adalah benar adanya yaitu salah seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam dan mengobarkan faham Syi’ah Sabaiyah dalam kitab
Masih banyak tentunya keterangan yang telah merekam jejak keberadaan Abdullah Bin Saba ini sampai pada akhirnya dalam kitab “ Milal Wan Nihal “ dinyatakan bahwa, setelah Saydina Ali menjadi Khalifah, suatu hari Abdullah Bin Saba datang kepada beliau dan mengatakan bahwa kepada Syaidina Ali bahwa “Engkau – Engkaulah Yang Tuhan “
Tentunya penyataan ini menuai kemarahan Syaidina Ali. Akhirnya Adullah Bin Saba di Tangkap dan dibuang ke Madain. Itulah akhir kisah Abdullah Bin Saba yang hidup sebagai orang buangan sampai akhir hayatnya pada zaman pemerintahan Syaidina Ali yang dipertuhankannya. Amin ( Firqah – Firqah Dalam Islam )



Faham Qadariyah
Faham Qadariyah adalah Fahan Majusinya Islam, sesuai dengan asal katanya, Qadariyah berarti kuasa atau kuasa sendiri, sehingga kaum Qadariyah adalah kaum yang menyatakan diinya mempunyai kuasa atas dirinya sendiri dengan cara mengurangi kekuasaan Tuhan. Kaum Qadariyah memahami bahwa, setiap perbuatan baik adalah ciptaan Tuhan, sedangkan setiap perbuatan buruk adalah ciptaan manusia, sehingga seluruh perbuatan makhluk tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan

Pemahaman kaum Qadariyah ini sama dengan pemahaman kaum Majusi yang menyakini bahwa setiap kebaikan bersumber dari cahaya dan setiap keburukan berasal dari kegelapan yang berati adanya dua Tuhan yang berbeda yang masing – masingnya menciptakan dua perbutan yang berbeda pula yaitu Tuhan dari cahaya terang tempat asal dari semua kebaikan dan Tuhan dari kegelapan tempat asal dari semua kejahatan. Berdasarkan hal tersebut, maka faham Qadariyah ini dapat dinyatkan sebagai Majusinya Islam
Dalam kaitan Majusinya Islam, Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya menyampaikan sebagai berikut :
“ Dari Hudzaifah, belau berkata : Berkata Rasulullah SAW : Bagi tiap – tipa umat ada majusinya, Majusi umat ini ia lah mereka yang tidak percaya kepada takdir, kalau mereka kematian jangan dizirarahi, jkalau mereka sakit jangan dijenguk. Mereka adalah partai dajal, memang ada hak bagi Tuhan mengaitkan mereka dengan dajal “ ( HR : Abu Daud )
Selanjutnya kaum Qadariyah memahami bahwa, kalau seorang manusia mengerjakan suatu perbuatan yang baik, maka ia akan diberi pahala oleh Tuhan karena dia telah memakai kodratnya dengan baik sebagai mana semestinya, tetapi apabila dia berbuat buruk atau berbuat jahat, maka Tuhan akan memberinya Dosa sebagai hukuman karena dia telah memakai kodratnya tidak sebagaimana mestinya
Pemaham seperti ini jelas – jelas sangat salah dan keliru, karena dengan aqidah seperti itu apa bila dilanjutkan secara lebih mendalam lagi, maka berarti Tuhan pada hakikatnya tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh manusia dan Tuhan itu baru tahu setelah manusia mengerjakannya, sehingga Tuhan marah dan memberi dosa
Dalam pemahaman ajaran Islam sebagai agama tauhid terkahir yaitu ajaran tauhid yang lurus lagi benar dalam blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini difahami bahwa Tuhan itu bersifat Maha Tahu dan Maha Mengetahui. Tuhan itu maha mengetahui apa – apa yang di lahirkan dalam perbuatan manusia atau pun apa – apa yang disembunyikan dalam hati manusia, sehingga tidak ada yang luput dari pengawasan Tuhan Rabb al ‘Alamin
Ketahuilah bahwa sesungguhnya, seluruh alam dan seluruh isinya, yang nyata atau pun yang qaib, mulai dari tiadanya sebelum diciptakan sampai dengan akhirnya, seluruh kehidupan di alam ini yang kemudian dilanjutkan sampai alam akhirat kelak yang berakhir di surga atau neraka semunya sudah berada dalam catatan atau berada dalam kendali Allah SWT
Selanjutnya perlu juga diketahu bahwa, faham Qadariyah ini pada hakikatnya hampir sama dengan faham Mu’tazailah dan dalam kenyataannya, faham Qadariyah memang merupakan bagian dari faham Mu’tazailah kerena secara umum imam – imam dari faham Qadariyah ini terdiri dari orang – orang dari faham Mu’tazailah.
Sebagai mana diketahui bahwa hampir seluruh kaum Mu’tazailah menfatwakan bahwa sekalian perbuatan manusia diciptakan oleh perbuatan manusia itu sendiri, sehingga kaum Qadariyah ini bisa dikatakan atau diberi sebutan juga dengan Mu’tazailah – Qadariyah
Faham Qadaraiyah ini pertama sekali dikembangkan oleh Ma’bud al Juhani dan Gailan ad Dimasyqi dimana Ma’bad al Juhani ini adalah salah seorang tabi’in atau orang yang berada pada generasi kedua sesudah Nabi Muhammad SAW. Ia pernah belajar kepada Wahsil Bin ‘Atha yang merupakan salah seorang Imam dari kaum Mu’tazilah dan ia juga belajar kepada Syeikh Hasan Basri di Basrah
Sedangkan Gailan ad Dimasyqi adalah salah seorang dari penduduk kota Dimsyaq ( Syiria ) dan orang tuanya pernah bekerja pada Khalifah Usman Bin Affan. Gailan ad Dimasyqi sendiri datang ke Dimsyaq pada masa Khalifah Hisyam Bin Abdul Muluk, salah seorang Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 105 Hijriyah sampai dengan tahun 125 Hijriyah
Pendapat lain mengatakan bahwa yang mula – mula mengembangkan faham Qadariyah ini adalah seorang dari Iraq yang pada awalnya dia beragama Nasrani kemudian masuk Islam dan akhirnya kembali kepada agama Nasrani. Kepada orang inlah Ma’bad al Juhani dan Gailan ad Dimasyqi belajar faham Qadariyah ini
Sedangkan Imam dari kaum Qadariyah yang terkenal adalah salah seorang imam dari Mu’tazailah yang bernama Ibrahim Bin Sayar an Nazaham ( meninggal 211 Hijriyah ) dengan fatwanya yang terkenal yaitu, Ijmak sahabat atau Ijmak imam – imam Mujtahid tidak dapat dijadikan dalil. Dan fatwa yang menyatakan bahwa Al-Quran apabila dipandang dari lafazhnya, hurufnya, bukanlah mukzizat, tetapi mukzizitanya hanya terletak pada pengkhabaran gaib yang banyak disampaikan Al-Quran
Ciri – ciri yang terlihat secara terang dari faham Qadariyah ini adalah pada pemahamannya yang menyatakan bahwa : Walau bagaimanapun, akhirnya yang akan menetukan adalah manusia karena Tuhan tidak bisa merubah nasib manusia kalau tidak manusia itu yang merubah nasibnya sendiri. ( Firqah – Firqah Dalam Islam )


Faham Najariyah
Faham Najariyah Adalah Faham Kutu Locat. Faham Najariyah pada mulanya dikembangkan oleh seorang yang bernama Abu Abdillah Husein Bin Muhammad an Najer yang hidup pada masa pemerintahan Khalifah al Ma’mun pada tahun 198 Hijriyah sampai dengan tahun 218 Hijriyah

Abu Abdillah Husein Bin Muhammad an Najer ini belajar kepada salah seorang imam dari imannya kaum Mu’tazailah yang bernama Basyar al Marisi sehingga faham Najariyah ini bisa digolongkan kepada faham Mu’tazailah
Namun demikian Abu Abdillah Husein Bin Muhammad an Najer, pada akhirnya menjadi bajing loncat dalam pemahamannya dengan pengertian bahwa kadang – kadang dia menganut faham Mu’tazailah, sekali waktu dia menganut faham Jabariyah, lalu menganut faham Ahlussunah Wal Jama’ah sampai kemudian ia membuat firqah sendiri dengan nama Najariyah.
Landasan utama pemahaman dari faham Najariyah ini adalah bertujuan untuk mempersatukan antara faham – faham yang ada pada masa itu, sehingga satu kali fatwanya sama dengan fahamMu’tazailah, satu kali fatwanya sama dengan faham Jabariyah dan satu kali yang lain sama dengan faham Ahlussunah Wal Jama’ah, satu kali sama dengan faham Syi’ah dan kali yang lain sama dengan faham Murjiah
Apabila ditilik lebih jauh, maka akan terlihat bahwa faham Najariyah ini agak mirip dengan faham Bahaiyah yang pada awalnya adalah berfaham Syi’ah kemudian berusaha mempersatukan seluruh agama di dunia.
Beberapa pemahaman dari faham Najariyah yang terkenal adalah bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Tuhan berkuasa dengan Zat-Nya, Tuhan berkata dengan Zat-Nya dan Tuhan mendengar dengan Zat-Nya
Faham ini sama dengan faham Mu’tazailah yang sangat bertentangan dengan faham Ahlussunah Wal Jama’ah yang menyakini bahwa Allah mempunyai sifat. Allah berkuasa, melihat dan mendengar dengan sifat-Nya, bukan dengan Zat-Nya
Faham Najariyah ini juga memahami bahwa Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata kepala walau pun di dalam syurga dengan dasar pemahaman yang sama dengan faham Mu’tazilah
Selain itu faham Najriyah ini juga menyakini bahwa setiap orang Islam atau orang mukmin yang berbuat dosa besar kalau meninggal dan sebelum meninggalnya itu dia belum bertaubat atau belum sempat bertobat kepada Allah, maka menurut faham Najariyah orang ini akan pasti masuk neraka, tetapi tidak kekal di dalamnya
Pemahamn ini kelihatannya sama dengan faham Mu’tazailah. Perbedannya hanya terletak pada “ kekal tidaknya orang tersebut dalam neraka “,
Sedangkan Ahlussunah Wal Jam’ah memahami bahwa “ setiap orang Islam atau orang mukmin yang melakukan dosa besar kalau dia meninggal dan sebelum dia meninggal belum sempat atau tidak sempat bertobat kepad Allah belum tentu maksuk neraka “ karena Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, berbuat atas segala kehendaknya.
Bila Allah bekehendak memasukkan orang tersebut kedalam neraka, maka orang tersebut akan masuk neraka dan sebaliknya, apabila Tuhan Berkehndak, orang tersebut masuk surga siapa yang bisa melarang ?. Dalam hal ini “ Allah Tidak Suka Urusannya di Campuri “
Walau faham Najriyah ini dalam perkembangannya tidak lagi tercatat dalam sejarah, namun folosofi pemahamannya saat ini terasa mulai timbul kembali yang berafiliasi dengan beberapa firqah yang lain yang Insya Allah akan kita bahas semua kesalahan – kesalahan mendasar dan prinsip dari firqah – firqah tersebut, namun pada postingan ini sekarang kita masih pada tahap pengenalan untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang fakta dan realita yang ada di sekitar kita dan hubungannya dengan beberapa faham yang ada dan berkembang di dalam Islam !!! ( Firqah – Firqah Dalam Islam )


Faham Mu’tazilah
Mu’tazilah Adalah Kaum Yang Menjadikan Akal Sebagai Raja. Sesuai dengan namanya Mu’tazilh bersal dari kata I’itizal yang berarti menyisihkan diri dan kaum Mu’tazilah adalah kaum yang menyisihkan diri.
Bedasarkan asal usulnya yang paling kuat tentang sebab musabab kaum ini dinamai kaum Mu’tazilah adalah dimulai dari seorang guru besar di Bagdad yang bernama Syeikh Hasan Basri ( meninggal tahun 110 Hijriyah ). Beliau mempunyai banyak sekali murid, salah seorang muridnya ada yang bernama Wasil Bin ‘Atha ( meninggal tahun 131 Hijriyah )
Ketika Syeikh Hasan Basri menerangkan bahwa, apabila ada orang islam yang telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi ia kebetulan mengerjakan dosa besar, maka orang itu tetap muslim tetapi merupakan seorang muslim yang durhaka. Di Akhirat nanti, kalau dia wafat sebelum bertaubat dari dosanya, ia dimasukkan ke dalam neraka buat sementara waktu. Setelah dia menjalankan hukuman atas perbuatan dosanya di neraka, dia akan dikeluarkan dari neraka tersebut dan dimasukkan kedalam surga sebagai seorang mukmin dan muslim.
Wasil Bin ‘Atha tidak sependapat dengan gurunya itu, lantas dia membentak lalu keluar dari majelis gurunya dan kemudian membentuk majelis sendiri di pojok mesjid Basrah.. Selanjutnya Wasil Bin ‘Atha dinamai dengan kaum Mu’tazilah karena mengasingkan diri dari gurunya.
Dalam mengasingkan diri, Wasil Bin ‘Atha didampingi oleh seorang temannya yang bernama Umar Bin Ubeid ( meninggal Thaun 145 Hijriyah ), tetapi sejarah tidak mencatat watu tepatnya Umar Bin Ubeid mulai mengasingkan diri.
Selanjutnya dua orang ini yaitu Wasil Bin ‘Atha dan Umar Bin Ubeid dikenal sebagai guru besar dari faham Mu’tazilah yang penyebarannya dimulai kira – kira pada tahun 120 Hijriyah atau pada zaman khalifah Hisyim Bin Abdul Muluk dari Bani Umaiyah ( Berkuasa pada tahun 100 Hijriyah sampai dengan tahun 125 Hijriyah )
Sedangkan masa emas atau puncak dari kejayaan penyebaran faham Mu’tazilah ini adalah pada abad ketiga sampai abad kelima Hijriyah yaitu pada masa Khalifah Ma’mun Bin Harun Rasyid, Khalifah al-Mu’tashim Bin Harun Rasyid dan Khalifah Al- Watsiq Bin al- Mu’tashim
Salah satu keistimewaan bagi kaum Mu’tazailah ialah dalam cara mereka membentuk madzhabnya yaitu mereka kaum Mu’tazilah lebih banyak memakai akalnya dan atau lebih mengutamakan akalnya dari pada memakai Al-Qur’an dan Hadist sebagai landasan utama, sehingga segala sesuatu terlebih dahulu dipertimbangkan dengan mempergunakan akal baru kemudian memperhatikan ayat – ayat Al-Quran dan hadist.
Apabila sesuatu hal tidak bisa diterima oleh akal mereka, maka hal itu langsung ditolak walau Al-Quran dan Hadist telah dengan terang menyatakannya. Sehingga akal bagi kaum Mu’tazilah kedudukannya lebih tinggi dari pada Al-Quran dan Hadist
Apabila kita mencoba mempelajari dan mencermati kembali sejarah perkembangan islam dari tahun 40 Hijriyah sampai 232 Hijriyah, daerah – daerah islam sudah berkembang dengan sangat luas, mulai dari jazirah Arab sampai Parsia, India, Afganistan, Khuraisan bahkan pada masa itu orang islam sudah sampai ke Indonesia dan Tiongkok.
Banyak orang yang masuk islam tersebut berasal dari orang – orang Nasrani, Budha, Majusi dan ahli – ahli filsafat dari Yunani yang menganut faham filsafat Aristoteles dan faham filsafat Plato, Para Pendeta, Rahib – Rahib dan guru – guru besar Injil juga sangat banyak yang telah masuk islam.
Dan tentunya setelah masuk islam mereka juga turut membicarakan soal – soal ketuhanan dan soal – soal hukum dalam ajaran Agama Islam , pada hal dalam kepala mereka waktu itu masih melekat sangat kuat ajaran dan pemahaman agama lama mereka serta Pola pikir dan pemikiran mereka masih sangat dipenuhi oleh pemikiran – pemikiran dari ajaran agama mereka yang lama itu. Sedangkan Al-Quran dan Hadist belum banyak yang mereka fahami, sehingga ketika muncul faham Mu’tazilah yang menjadikan Akal sebagai raja, maka banyaklah diatara mereka yang tertarik memasuki ajaran dan pemahamn Mu’tazilah ini,
Selain itu diantara mereka yang masuk islam tersebut ada juga orang – orang yang berniat jahat terhadap islam yaitu mereka hendak mencoba menghancurkan ajaran Islam dari dalam dengan jalan memasukkan faham Nasrani, faham Yahudi, faham Budha, faham Yunani dan pemikiran pemikiran lain yang keliru yang bertentangan dengan Sunnah Nabi dan kitab suci Al-Quran kedalam Ajaran Islam yang suci
Hal itu semakin diperparah dengan sebuah kecelakaan besar yang terjadi untuk pemahaman ajaran Islam yang benar, yaitu ketika Khalifah Ma’mun Bin Harun Rasyid, demi kepentingan ilmu pengetahuan memerintahkan untuk menterjemahkan kitab – kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, akibatnya pemahaman dari filsafat – filsafat Yunani mulai bercampur aduk kedalam ruang pemahaman agama Islam yang suci.
Selanjutnya muncullah nama – nama seperti Ibnu Rawandi, Abu Isa al Warraq, Ahmad Bin Haith dan Fudhal al Hadits yang dikenal sebagai orang – orang yang masuk islam dengan niat yang jahat. Hal itu dapat dilihat dari fatwa – fatwa aneh dan ganjil yang dikeluarkannya
Ibnu Ruwandi yang merupakan salah satu dari imam besar dari kaum Mu’tazailah dalam bukunya “ At Taj “ atau “ Mahkota “ dengan tegas mempertahankan pendapatnya yang mengatakan bahwa, Sesungguhnya alam ini bersifat Qadim yakni tidak berpermulaan adanya atau alam ini sama qadim-nya dengan Tuhan.
Dan dalam kitab “ az Zamradah “ dia juga dengan gigih mempertahankan pendapatnya yang mengatakan bahwa, sesungguhnya risalah Nabi – Nabi telah habis seiring dengan wafatnya nabi – Nabi tersebut.
Dia juga pernah mencemooh dan menghina Kitab Suci Al-Quran dengan menyatakan bahwa, sesungguhnya ucapan – ucapan Aktsman Bin Saifi lebih bagus dan lebih manis dari pada salah satu ayat dalam surat “ Al-Kautsar “
Pendapat dan pemahaman yang dikembangkan oleh kaum Mu’tazailah ini jelas sangat berbahaya dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam sebagai agama tauhid terakhir yang risalahnya akan berlaku abadi sampai akhir zaman nantinya. ( Firqah – Firqah Dalam Islam )


Faham Musyabbihah

Faham Musyabbihah Adalah Faham Yang Menyatakan Tuhan Itu Laki – Laki. Faham Musyabbihah adalah faham yang menyerupakan yaitu faham Musyabbihah ini menyerupakan Tuhan dengan makhluk-Nya dan mungkin karena mereka semua dalah manusia, maka penyamaan yang mereka pakai adalah menyamakan Tuhan dengan manusia. Mereka memahami dan menyakini bahwa Allah mempunyai kaki, tangan, muka bertubuh seperti manusia.

Nama lain dari faham Musyabbihah adalah faham Mujassimah yang berarti faham yang menubuhkan karena mereka menubuhkan Tuhan seperti Tuhan mempinyai kulit, daging,. Tulang dan urat, Tuhan itu menurut faham Mujasimmah ini mempunyai kelamin. Kelamin Tuhan menurut mereka adalah laki – laki
Selain itu ada juga yang menamakan faham ini dengan faham Hasyawiyah yang berarti percakapan omong kosong, Percakapan yang sudah diluar batas, percakapan yang hina dina, sehingga kaum Musyabbihah ini dinyatakan dengan kaum Omong Kosong yang percakapan mereke dinilai hina dan menghinakan karena sudah terlalu jauh melampaui batas kewenagan manusia sebagai makhluk
Bebarapa pemahan kaum Musyabbihah atau Mujassimah dan atau kaum Hasyawiyah ini adalah memahami bahawa Tuhan bermuka dan bertangan dengan berdalil kepada :
“ Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan “ ( QS : 055 : Ar-Rahmaan : Ayat : 027 )
“ Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar ” ( QS : 048 : Al-Fath : Ayat : 010 )
Sedangkan pemahaman lain yang diyakini oleh kaum Musyabbihah atau Mujassimah dan atau kaum Hasyawiyah ini adalah bahwa Tuhan itu duduk bersela di atas ‘Arsy dan Tuhan itu berada di atas langit atau Tuhan itu berada di langit yang bisa ditunjuk dengan jari
Sikap dan perilaku yang mudah terlihat dan terbaca oleh orang awam sekali pun adalah ketika kaum Musyabbihah atau Mujassimah dan atau kaum Hasyawiyah ini berbicara tentang Tuhan selalu menunjuk atau memberikan isyarat ke atas, seakan – akan menegaskan bahwa Tuhan itu berada di atas langit dengan dasar dari pemahamannya sebagai berikut
“ (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy “. ( QS : 020 : Taahaa : Ayat : 05 )
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? ” ( QS : 067 : Al-Mulk : Ayat “ 16 )
Dari pemahaman tersebut dapatlah disimpulkan bahwa yang menjadi penyebab kekeliruan faham Musyabbihah atau Mujassimah dan atau kaum Hasyawiyah ini adalah karena mereka menafsirkan ayat – ayat dalam Al-Quran sebagai mana lahirnya saja atau sebagaimana yang tersurat saja tanpa memahahi hakikat makna dan hakikat batin dari ayat tersebut.
Dengan hal tersebut, tidak salah kalau faham ini dinamakan juga dengan faham Hasyawiyah atau faham yang berisi omong kosong belaka dan tak pantas untuk diikuti karena apabila kita menafsirkan Al-Quran sesuai yang tersurat saja, tentunya akan bisa membuat kita akan tersesat dari ajaran Islam sebagai agama tauhid terakhir dan bahkan bisa – bisa membuat kita jatuh kepada kekafiran
“ Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. ( QS : 018 : Al Kahfi Ayat : 029 )

Imam – imam dan guru besar dari faham kaum Musyabbihah atau Mujassimah dan atau kaum Hasyawiyah ini yang terkenal adalah :
1. Abu Abdullah Bin Hamid Bin ‘Ali al Baogdadi al Warraq ( meninggal tahun 403 Hijriyah ) yang terkenal dengan bukunya yang berjudul “ Syarah Usuluddin “ yang banyak menguraikan tentang keserupaan Tuhan dengan manusia
2. Qadhi Abu Ja’la Muhammad Bin Husein Bin Khalaf Bin Farra’ ( meninggal tahun 458 Hijriyah ) yang banyak mengarang buku tentang Usululddin yang banyak cacat fahamnya sehingga dikatan bahwa, Aib yang dibuat Abu Ja’la ini tidak dapat dibersihkan dengan sebanyak air laut sekali pun
3. Muhammad Bin Kiram ( meninggal tahun 256 Hijriyah ), Hisyam al Jawaliqi, Yunus Bin Abdirrahman, ‘Ali Bin Manshur adalah para imam yang menyatakan bahwa Tuhan itu berada di atas langit dan boleh ditunjuk dengan telunjuk ke atas
4. Mu’az al Anbari yang menfatwakan bahwa Tuhan itu laki – laki
5. Daud al Jawaribi yang memfatwakan bahwa Tuhan itu mempunyai anggota tubuh sama dnegan anggota tubuh manusia
Perlu juga dicatat bahwa, sebagian dari kaum Musyabbihah atau Mujassimah dan atau kaum Hasyawiyah pada umumnya berasal dari mazahab Hambali walau imam Ahmad Bin Hambal sendiri tidak berkeyakinan dan tidak beri’tiqad sebagaimana kaum Musyabbihah atau Mujassimah dan atau kaum Hasyawiyah ini ( Firqah – Firqah Dalam Islam )


Faham Khawarij
Khawarij adalah Faham Yang Hanya Berhukum Kepada Hukum Tuhan. Khawarij adalah sebuah faham yang sesuai artinya adalah kaum yang keluar yaitu keluar dari kelompok Syaidina Ali dan keluar dari kelompok Syaidina Mua’awiyah.
Kaum Khawarij ini timbul sebagai akibat dari Perperangan Siffin antara Syaidina Ali dan Syaidina Mu’awiyah yaitu ketika fihak Syaidina Mu’awiyah hampir kalah, mereka menyerukan penghentian perperangan dengan bertahkim atau perundingan.
Secara prinsip, sebetulnya Sayidina Ali tidak bersedia menghentikan perperangan dan mengadakan perundingan, karena menurut beliau perundingan itu hanyalah suatu siasat dari orang yang hampir kalah saja , namun karena desakan dari beberapa orang pengikut yang setuju penghentian perperangan, akhirnya Syaidina Ali bersedia menghentikan perperangan dan mengikuti perundingan yang ditawarkan oleh Syaidina Mu’awiyah
Namun demikian, diantara para pengikut Syaidina Ali ada yang mempunyai pandangan yang berbeda, dimana mereka memahami bahwa, Barang siapa yang mau berdamai dengan musuh pada saat perperangan adalah orang – orang yang ragu dan tidak yakin dengan pendiriannya dalam kebenaran peperangan yang ditegakkannya.
Hukum Allah sudah nyata. Siapa yang melawan Khalifah yang sah harus diperangi. Perperangan yang dilakukan adalah untuk menegakkan kebenaran demi keyakinan kepada agama. Kita sudah berjalan diatas garis yang benar yaitu garis kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kenapa mau berhenti berperang sebelum mereka kalah. Itulah pemahaman dari kelompok yang tidak setuju dengan perdamaian yang ditawarkan Syaidina Mu’awiyah yang juga disetujui oleh Syaidina Ali
Kaum ini akhirnya berbalik membenci Syaidina Ali karena menganggap Syaidina Ali terlalu lemah dalam menegakkan kebenaran sebagaimana mereka juga membenci Syaidina Mu’awiyah karena melawan khalifah yang sah.
Kaum ini kemudian dikenal dengan kaum Khawarij yaitu kaum yang keluar dari Syaidoina Ali dan keluar dari Syaidina Mu’awiyah dan kemudian mengobarkan pemahaman kelompok mereka dengan semboyan “ La hukma Illa lillah “ yang kira – kira berarti “ Tidak berhukum kecuali dengan hukum Allah “
Abdullah Bin Wahab ar Rasyidi adalah orang yang pertama yang diangkat memimpin kelompok kaum khawarij ini yang berjumlah kurang lebih 12.000 orang di Harura yang kemudian juga menamakan kelompoknya dengan Khawarij dengan makna yang lain yaitu “ orang – orang yang keluar pergi perang untuk menegakkan kebenaran “ dengan berdalil kepada :
“ Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ ( QS : 004 : An Nisaa : Ayat : 100 )
Paham Khawarij ini semakin lama semakin maju seiring dengan kekalahan Syaidina Ali dalam perundingan Tahkim, sehingga faham Khawarij dianggap sebagai faham yang benar oleh masyarakat umum
Dalam menegakkan fahamnya, Kaum Khawarij ini terkenal dengan kaum yang keras dan radikal, tampil apa adanya. Mereka berjuang mati-matian untuk menegakkan fahamnya dan selalu siap sedia memberikan pengorbanan apa saja termasuk jiwanya
Selanjutnya kaum ini membuat tiga kempok yang bertugas untuk membunuh Syaidina Ali, Syaidina Mu’awiyah dan Amru bin Ash. Berangkatlah ketiga kelompok yang telah dibentuk ini menjalankan tugasnya masing – masing untuk membunuh. Kelompok pertama pergi ke Bagdad karena ketika itu Syaidina Ali sedang berada di Bagdad, Kelopok kedua pergi ke Damsyik karena ketika itu Syaidina Mu’awiyah sedang berada di Damsyik dan kelopok ketiga ke Mesir karena ketika itu Amru Bin Ash sedang berada di Mesir.
Inilah usaha pertama dari kaum khawariuj dalam menebarkan aura kematian melalui rentetan rencana pembunuhan yang dilakukannya. Syaidian Ali akhirnya tewas ditikan oleh Abdurrahman Bin Muljam di waktu Subuh, sedangkan Syaidina Mu’awiyah dan Amru Bin Ash selamat
Pada perkembangan selanjutnya. Kaum Khawarij ini juga menamakan dirinya dengan “ Kaum Syurah “ yaitu kaum yang mengorbankan dirinya untuk kepentingan keridhaan Allah dengan mengambil dalil
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya “ ( QS : 002 : Al Baqarah : Ayat : 207 )
Setelah Syaidina Ali sebagai khalifah ke empat tewas terbunuh dan digantikan oleh Syaidina Hasan Bin Ali yang kemudian menyerahkan jabatan Khalifah kepada syaidina Mu’awiyah. Dan setelah Syaidina Husein ( bukan Hasan ) bin Ali wafat di Karbela, Kaum Khawarij ini semakin kuat dan semakin beringas melawan kekuasan Syaidina Mu’awiyah
Selanjutnya tercatat kaum Khawarij ini memecah diri menjadi dua cabang yaitu satu berpusat di Bathaih yang mempunyai kekuasan di Persia dan Kiraman untuk mengontrol daerah – daerah sekeliling Iraq yang dipimpin oleh Nafi’ Bin Azraq dan Qathar Bin Faja’ah
Cabang yang lain berpusat di Arab daratan yang menguasai kaum Khawarij yang berada di Jaman, Hadharamaut dan Thaif. Mereka berada dibawah pimpinan Abu Thaluf, Najdah Bin Ami dan Abu Fudaika
Tokoh – Tokoh Kaum Khawarij yang lain yang terkenal diantaranya adalah Urwah Bin Hudair, Ubaidillah Bin Basyir, Zuber Bin Ali, Abdu Rabbih dan masih banyak lagi yang pada mulanya mereka hanya mempersoalkan masalah jabatan kekhalifaahan, kemudian merembet ke soal – soal I’tiqad dan kepercayaan
Sering dengan perputaran sejarah gologan Khawarij ini sebetulnya telah hilang, namun dalam kelompok – kelopok kecil Kaum Kahwarij ini masih berkeliaran dan berafiliasi dengan banyak kelompok di seluruh dunia Islam sambil terus menebar aura kematian dimana – aman, karena memang mereka adalah kelompok yang terdiri dari orang – orang yang keluar pergi perang untuk menegakkan kebenaran sesuai pemahaman mereka dan hanya pemahaman merekalah yang paling benar. Selain dari kelompok mereka halal darahnya untuk dibunuh yaitu orang – orang yang tidak berhukum dengan hukum Tuhan. ( Firqah – Firqah Dalam Islam )


Faham Jabariyah
Jabariyah Adalah Faham Yang Hanya Bersandar Pada Kehendak Allah. Faham Jabariyah pada awalnya disampaikan dan dikembangkan oleh Jaham Bin Safwan yaitu salah seorang penduduk Khurasan yang pada awalnya merupakan jurutulis seorang pemimpin di Kurasan yang bernama Harits Bin Sureih yang memberontak terhadap kerajaan Bani Umayah di Khurasan.
Nama Jaham Bin Safwan menjadi sangat terkenal pada masanya karena dia adalah salah seorang yang sangat rajin bertabligh menyeru manusia kepada jalan Allah SWT dan berbakti kepada-Nya,
Dari beberapa fatwa yang disampaikan oleh Jaham Bin Sufwan yang salah dan keliru yang kemudian menjadi dasar pemahaman dari faham Jabarayiah ini. Fatwa tersbut adalah bahwa, manusia tidak mempunyai daya dan tidak mempunyai upaya, tidak ada ikhtiar dan tiada kasab.
Sekalian perbuatan manusia itu hanya majbur atau terpakasa diluar kemauan manusia, sebagai mana keadaan sehelai bulu yang diterbangkan angin kian kemari di udara atau sebagaimana kedaan sepotong kayu yang diombang – ambingkan oleh ombak di lautan luas.
Pemahaman tersebutlah yang menjadi penyebab faham yang dikembangkan oleh Jaham Bin Sufwan ini dinamakan dengan Faham Jabariyah yaitu faham dari orang – orang yang menyakini bahwa tidak ada ikhtiar atau usaha bagi manusia semua adalah kehendak Tuhan.
Nama lain dari faham Jabariyah ini atau kadang – kadang juga dinamai dengan faham Jahmiyah yang dinisbatkan kepada pengembang faham ini yaitu Jaham Bin Sufwan. Jaham Bin Sufwan yang merupakakn imam besar dari fahan Jabariyah ini adalah murid dari Ja’ad Bin Dirham yang merupakan pelopor fatwa yang mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah makhluk dan Tuhan tidak mempunyai sifat. Ja’ad Bin Dirham dihukum mati pada tahun 124 Hijriyah karena fatwa – fatwanya yang sangat sesat
Perlu di cemati dan difahami bahwa, pada awalnya faham jabariyah ini hampir sama dengan faham Ahlussunah wal jama’ah yaitu semua yang terjadi di alam ini pada hakikatnya semua dijadikan oleh Allah SWT, tetapi faham Jabariyah ini menafsirkan pemahamnnya terlalu jauh dan sangat radikal yaitu dengan mulai meninggalkan mulai shalat, puasa dan semua ibadah yang lain serta biasa melaksanakan kejahatan dan kemaksiatan.
Pada faham Jabariyah ini diyakini bahwa manusia tidak apa – apa kalau mencuri, berzina, membunuh dan perbuatan apa saja yang dilarang secara syariat karena semua perbuatan, Allah SWT yang menjadikan dan manusia tidak punya kuasa untuk untuk menolak dan menghindarinya. Seluruh gerak manusia sebagai makhluk dipaksa adanya oleh Tuhan, Tiada daya, tiada upaya kecuali atas kehendak Allah
Jadi, dengan faham Jabariyah atau faham Jahmiyah ini, seluruh syariat tidak berguna sama sekali, hukum dan semua Nabi dan Rasul tidak berarti, semua terserah kepada Allah SWT. Faham Wahdatul Wujud apabila ditelusuri sebetulnya bermula dari faham Jabariyah ini
Dalam beberap pemahaman yang lain. Faham Jabariyah ini juga mempunyai banyak kesamaan dan persamaan dengan faham Mu’tazailah yang menyakini dan memahami bahwa, sifat Tuhan itu tidak ada, bahwa surga dan neraka itu tidak kekal, Tuhan tidak bisa dilihat di surga, Quran itu makhluk dan lain sebagainya.
Setelah Jaham Bin Sufwan mati terbunuh dalam perperangan dengan dengan tentara Khalufah Bani Umayyah yang terakhir pada tahun 131 Hijriyah, Faham Jabariyah ini kemudian terpecah menjadi 3 firqah yaitu
1. Firqah Jamhiyah yang dikepala oleh Jaham Bin Safwan
2. Firqah Najjariyah yang dikepalai oleh Husein Bin Muhammamd an Najjar
3. Firqah Dlirariyah yang dikepalai oleh Dlirar Bin Umar
Tercatat bahwa zaman kekemasan perkembangan ketiga firqah ini terjadi pada sekitar akhir abad kedua Hijriyah sampai dengan pertengahan abad ketiga Hijriyah.
Sebagai catatan akhir dari kajian tentang pengenalan faham Jabariyah ini, perlu juga disampikan bahwa, walau faham Jabariyah dalam kenyataannya tidak begitu berkembang ditengah masyarakat, namun pola pemikiran dan kajiannya akan tetap ada yang mungkin terlahir dalam berbagai label dan identitas sebagai bentuk kamuflase yang menyesatkan aqidah, sehingga waspadalah … !!! waspadalah … !!! ( Firqah – Firqah Dalam Islam )


http://www.myrazano.com
http://www.myrazano.com/memahami-logika-al-quran/firqah-%E2%80%93-firqah-dalam-islam.html
http://www.myrazano.com/hakikat-sihir/kajian-firqah-firqah-dalam-islam.html
http://www.forumbebas.com/thread-36731.html
http://www.blogtopsites.com/outpost/636a67ebdf20c93d4d656ec022c243f6
http://www.myrazano.com/firqah-firqah-islam/faham-musyabbihah-adalah-faham-yang-menyatakan-tuhan-itu-laki.html
http://www.myrazano.com/firqah-firqah-islam/faham-najariyah-adalah-faham-kutu-locat.html
http://www.myrazano.com/firqah-firqah-islam/kaum-murjiah-adalah-faham-yang-hanya-tergantung-niat.html
http://www.myrazano.com/firqah-firqah-islam/mutazilah-adalah-kaum-yang-menjadikan-akal-sebagai-raja.html
http://www.myrazano.com/firqah-firqah-islam/khawarij-adalah-faham-yang-hanya-berhukum-kepada-hukum-tuhan.html
http://www.myrazano.com/firqah-firqah-islam/faham-qadariyah-adalah-majusinya-islam.html
http://www.myrazano.com/firqah-firqah-islam/jabariyah-adalah-faham-yang-hanya-bersandar-pada-kehendak-allah.html
http://www.myrazano.com/bangsa-bangsa-predator/abdullah-bin-saba-sang-inisiator-faham-syi%E2%80%99ah.html

FIRQAH

FIRQAH-FIRQAH DALAM ISLAM

SEJARAH PERPECAHAN UMAT ISLAM

Saat Rasulullah wafat, umat Islam hidup dalam ikatan persaudaraan dan persatuan yang kuat, penuh kesucian dan kemulian.

Namun sumber fitnah pertama setelah wafatnya Rasulullah adalah penentuan pemimpin sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah. Perselisihan pertama yang terjadi antara kaum Muhajirin dengan Anshar, tapi karena mantafnya pemahaman Islam yang telah melekat dalam hati muslim pada saat itu, serta jauh dari ambisi pribadi para sahabat, maka mereka dapat menghilangkan perselisihan tersebut.

Disamping itu antara Muhajirin dan Anshar saling memuliakan dan menghargai satu dengan yang lainnya. Saad bin Ubadah pemimpin kaum Anshar mengatakan “Kamilah (anshar) sebagai menteri, dan kalian (Muhajirin) sebagai pemimpin”.

Dengan perkataan Saad, padamlah api perselisihan yang nyaris menyala. Perselisihan tentang masalah besar itu dapat dengan mudahnya diatasi dengan adanya kerelaan kaum Anshar untuk mengakui kepemimpinan Muhajirin.

Di dalam Muhajirin sendiri sebenarnya terdapat perbedaan dalam penentuan bai’at kepemimpinan tersebut. Umar bin Khaththab segera menuju Abu Ubaidah sambil mengatakan “Bukalah tanganmu, aku akan membai’atmu, Engakaulah orang yang paling dipercaya diantara umat Muhammad, seperti ucapan Rasulullah di hadapan orang banyak”.

Namun Abu Ubaidah menolak dengan tegas dan mengatakan dengan penuh kesungguhan, keimanan dan ketulusan , “Engkau akan membai’at aku, sedang di antara kita ada seorang Ash Shiddiq (Abu Bakar), orang yang berdua bersama Rasul di dalam gua ?”.

Lalu Umar merasakan kebenaran dari ucapan Abu Ubaidah, maka segera ia menghampiri Abu Bakar dan berkata, “BUkalah tanganmu, aku akan membai’atmu, engakau jauh lebih utama dari diriku”.

Abu Bakar pun tidak segera memenuhi permintaan Umar dan menjawab berulang-ulang,”Engakau lebih kuat dari aku”.

Umar pun menukas, “Seluruh kekuatan yang ada padaku adalah bagi keutamaan yang ada pada dirimu”. Akhirnya terjadilah bai’at Umar kepada Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah pertama kemudian diikuti oleh Muhajirin dan Anshar.

Diantara para sahabat hanya Ali yang terlambat membai’at karena pada waktu itu masih sibuk mengurus Fatimah, Istrinya yang dirundung kesedihan karena ditinggal ayahnya. Ali membai’at Abu Bakar dengan keikhlasan dan kepercayaan.

Sebelum Abu Bakar wafat, kaum muslimin telah mengambil kata sepakat untuk memilih Umar bin Khaththab sebagai pengganti Abu Bakar. Pada saat bai’at Umar sebagai khalifah kedua tidak ada seorang pun sahabat yang datang terlambat, bahkan Ali termasuk orang pertama yang membai’at Umar.

Begitulah awal-awal kepergian Rasulullah berbagai masalah yang timbul dapat diselesaikan dengan baik dan kehidupan umat Islam berjalan dengan penuh ketenangan dan ketentraman.

Pada masa kepemimpinan Utsman ibnu Affan, barulah fitnah dan perpecahan mulai merebak, bahkan mengakibatkan terbunuhnya khalifah ketiga itu.

Sepeninggalnya Utsman ibnu Affan, sebagian kaum muslimin membai’at Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat. Tewasnya Utsman dan dipilihnya khalifah baru bukan akhir dari masalah. Sisa-sisa kefanatikan terhadap kabilah, serta ambisi untuk menduduki kepemimpinan mulai naik ke permukaan.

Sejumlah golongan atau kelompok lahir, masing-masing kelompok menunjuk pemimpinnya. Salah satu kelompok itu adalah kelompok yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan yang menempatkan diri sebagai oposan Ali.

Pendukung utama Khalifah Ali pun menggalang diri, dari sinilah berawal kelahiran dua Syi’ah (pengikut) dalam tubuh umat Islam, pengikut Muawiyah dan pengikut atau pendukung Ali dan anak cucunya, yang kemudian lebih dikenal dengan kelompok Syi’ah.

Syi’ah pada awalnya adalah satu aliran politik, demikian juga hal dengan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Muawiyah. Perbedaan politik antara Ali dengan Muawiyah berlangsung terus dan diperuncing oleh pengikut masing-masing, hingga suatu ketika diadakan tahkim (perundingan).

Umat Islam yang sudah terpecah menjadi dua itu harus terpecah lagi menjadi tiga dikarenakan ketidak setujuan diadakan perundingan tersebut. Kelompok ketiga ini dikenal dengan sebutan kelompok Khawarij.

Berdasarkan sejarah di atas, latar belakang lahirnya firqah-firqah dalam tubuh Islam, pada awalnya adalah perbedaan kepentingan dan paham politik bukan perbedaan paham dalam masalah diniyah, dengan kata lain, perbedaan itu bukan berpangkal dari perbedaan masalah aqidah, tetapi perbedaan pandangan dalam menentukan kepemimpinan atau dalam proses pemilihan khalifah.

Selanjutnya setiap firqah terpecah menjadi beberapa firqah baru. Seperti firqah Syi’ah terpecah menjadi beberapa firqah, ada Zaidiyyah, Ismailiyyah, Itsna Asyariyyah, Al Kisaniyyah, Al Mukhtariyah, Karbiyyah, Hasyimiyyah, Al Mashuriyyah, Al Khitabiyyah dan banyak lagi.

Sebagian dari firqah itu bersikap berlebih-lebihan dan telah menyimpang jauh dari ajaran tauhid yang murni, mereka menuhankan Ali bin Abi Thalib, disamping masih ada pula perpecahan yang tetap memegang teguh keyakinan atau aqidah yang lurus dan pemikiran yang jernih.

Begitu juga Syi’ah Khawarij terpecah menjadi beberapa firqah, diantaranya, Az Zariqah, Ash Shafriyyah, Al Ibadhiyyah, Al Ajaridah dan Ast Tsa’aliban. Firqah–friqah itu masih terbagi lagi dalam beberapa firqah.

Firqah-firqah tersebut masih diwarnai perbedaan pandangan politik yang bertittik tolak pada perbedaan pendapat tentang masalah hukum.

Seiring dengan berjalannya waktu bertambah pula firqah-firqah baru dalam Islam seperti Mutazillah, Asy’ariyyah dan sebagainya, yang satu dengan yang lainnya saling bermusuhan dan saling membenci.

Di antara kelompok-kelompok itu agaknya Ahlus Sunnah adalah yang paling mendekati pemahaman aqidah Islam yang benar, tidak dilandasi sikap fanatik ataupun taqlid buta.

Sabtu, 06 Februari 2010

GAMBARAN NERAKA-GAMBARAN SIKSA NERAKA

Setiap manusia yang memiliki iman meski hanya sebesar debu, akan masuk ke dalam surga! Itulah janji Tuhan. Selama ini mungkin beberapa orang diantara kita kurang memahami artinya, bagaimana maksud hal itu? Apakah cukup dengan mempercayai Tuhan namun memiliki banyak kesalahan kita bisa masuk surga? Saya sendiri juga kurang bisa memastikan hal ini. Bisa jadi memang sebanyak apapun kesalahan yang kita lakukan, kita semua tetap akan masuk surga, meski sebelumnya kita akan menebus semua kesalahan itu di dalam neraka.

Jadi setelah masa perhitungan antara kesalahan dan kebaikan yang kita perbuat, kita akan menebus dosa- dosa kita dengan masuk ke neraka terlebih dahulu. Setelah itu barulah kita di masukkan ke surga. Sebetulnya surga atau neraka ini memang benar- benar ada atau tidak sih? Coba bayangkan, ada berapa manusia yang pernah hidup di dunia ini.. apa benar semuanya bakal cukup di dalam neraka? Seandainya neraka tidak cukup bagaimana?

Ayo kita lihat perbandingan antara bumi dan matahari saja deh, titik kecil diatas adalah bumi yang kita pijak dengan bumi yang sebesar itu, bumi bisa menampung semua manusia yang pernah hidup. Okelah mereka tidak hidup secara bersamaan, namun jika di bandingkan dengan matahari saja deh yang berwarna kuning itu, dengan perbandingan antara bumi dan matahari yang sebegitu. Saya rasa Tuhan tidak perlu membangun neraka lagi. Cukup di tumpahkan semuanya ke matahari semua beres dah!

Lalu bagaimana dengan surga? Pastinya surga merupakan rahasia bagi Tuhan, namun ada beberapa tempat yang memang belum bisa kita ketahui secara pasti. Hanya saja satu yang saya ingat dari janji Tuhan adalah ‘orang yang terakhir masuk ke dalam surga akan mendapatkan tempat seluas 6 kali lipat dari luas bumi!’ tentunya setelah orang itu mendapatkan balasan di neraka. Bisa jadi dia adalah orang yang paling hitam di surga nantinya.

Ini adalah gambar-gambar imajinasi Siksaan Neraka dengan melihat gambar-gambar di bawah ini mudah-mudahan kita akan ingat kematian dan kehidupan di akhirat kelak. Dan semoga kita menjadi takut dan memperbaiki diri dengan beriman dan bertaqwa kepada Alloh SWT, semoga kita termasuk orang-orang yang terhindar dari siksa akhirat ..Amiin.

Sumber :

http://enformasi.com/2008/05/gambaran-te…

http://tyo-pwt.blogspot.com/2007/11/gamb…

Tentang Neraka

Alloh Subhannaahu wa Ta’ala telah berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-Tahrim: 6]

Dan di dalam ayat yang lain disebutkan,“peliharalah dirimu dari Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqoroh: 24]

Kedua ayat di atas memperingatkan kita agar menjaga diri dari api Neraka dengan cara menempuh jalan yang lurus. Karena jika di akhirat nanti seseorang dimasukkan ke Nereka, ‘na’udzu billah min dzalik’, maka tidak ada lagi jalan keselamatan dan tidak akan diterima segala macam tebusan. Suatu hari yang tiada berguna lagi harta benda dan anak cucu, kecuali orang yang menghadap Alloh dengan membawa hati yang salim, selamat dari kemusyrikan, bid’ah dan aneka macam perbuatan dosa.

Sedikit Gambaran tentang Neraka

Dia adalah penjara yang penuh dengan siksaan yang pedih, jurang amat dalam yang di dalamnya berkobar api yang menyala dan bergejolak. Panasnya tujuh puluh kali lipat dibandingkan panas api yang ada di dunia saat ini, Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda,

“ Api yang biasa kalian nyalakan adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari api Jahannam.” [HR . Al-Bukhori]

Hawa paling panas yang ada di dunia ini tak lain adalah sedikit hembusan dari Neraka Jahannam. Sabda Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam,

“Tunggulah hingga agak dingin untuk shalat (Zhuhur), karena panas yang berlebihan adalah sebagian dari hembusan Jahannam.” [HR. Al-Bukhori]

Tentang luasnya Neraka, Rasululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Tahukah kalian apa ini? Kami semua menjawab, “Alloh dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Beliau bersabda, “Ini adalah batu, jika dilemparkan ke dalam Neraka semenjak tujuh puluh tahun, maka ia masih melayang di Neraka sampai saat ini (belum menyentuh dasarnya, pent).” [HR. Muslim]

Api Neraka meyiksa manusia sesuai dengan tingkat dosa yang diperbuat. Sabda Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam, “Sebagian orang ada yang dilalap api Neraka hingga kedua mata kakinya, sebagian lagi ada yang hingga kedua lututnya, sebagian lagi ada yang dilalap hingga pinggangnya dan ada juga yang disiksa hingga tengkuk lehernya.” [HR. Muslim]

Rasululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam juga telah bersabda, “Pada Hari Kiamat didatangkan penghuni neraka yakni seorang yang ketika di dunia mendapatkan kenikmatan paling besar, kemudian ia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan lalu ditanya, “Wahai anak Adam adakah engkau masih melihat karunia yang tersisa? Apakah kini engkau merasakan sedikit kenikmatan? Maka ia menjawab, “Demi Alloh tidak sama sekali wahai Rabb.” [HR Muslim]

Di antara Penghuni Neraka

• Orang-orang musyrik, termasuk Yahudi, Nashrani, Majusi,mulhidin (pembangkang) dan secara umum semua orang yang menyekutukan Alloh atau melakukan syirik akbar. Firman Alloh Subhannaahu wa Ta’ala , artinya,

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata,“Sesungguhnya Alloh ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Alloh Robbku dan Robbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS. Al-Maidah: 72]

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. An-Nisa': 48]

Sedangkan ahlul ma’shiyah (pelaku maksiat) dari orang muslim, maka dia di bawah kehendak Alloh, jika menghendaki, maka Dia akan mengampuni dan jika menghendaki, maka Dia akan menyiksa.

• Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda tentang penghuni Neraka,

“Maukah kalian aku beritahu penduduk neraka? (Yaitu) Setiap orang yang besar kepala, angkuh lagi sombong.” [HR. Al-Bukhori-Muslim]

• Beliau juga memberitahukan bahwa wanita yang bertabarruj (mengumbar aurat dan kecantikannya) termasuk penghuni Neraka. Sabda beliau Shollallohu Alaihi wa Sallam,

“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat; Yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli orang-orang dengannya. Dan wanita-wanita yang memakai baju tapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundak-nya dan berlenggak-lenggok.Kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, pada-hal sungguh wangi Surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” [HR . Muslim]

• Meninggalkan sholat, merupakan penyebab terjerumusnya seseorang masuk Neraka. Alloh berfirman,

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka) Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin dan adalah kami membica-rakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya dan adalah kami mendustakan hari pembalasan” [QS. Al-Muddatstsir: 42 - 46]

Rasululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang kafir) adalah sholat, maka barang siapa meninggalkannya ia telah kafir.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menyebutkan sejumlah dosa secara global yang merupakan penyebab dari masuknya seseorang ke dalam Neraka, yaitu:

Menyekutukan Alloh Ta’ala; Mendustakan para rasul; hasad (dengki); Dusta; Khianat; Berbuat aniaya, kekejian; Ingkar janji; Memutuskan silaturrahmi; Pengecut dalam berjihad; Bakhil; Munafik; Berputus asa dari rahmat Alloh; Merasa aman dari makar Alloh; Berkeluh kesah terhadap musibah; Angkuh; Sombong atas nikmat yang diterima; Meninggalkan hal-hal yang wajib; Melanggar hudud (batasan dari Alloh); Menerjang keharaman-Nya; takut kepada makhluk bukan kepada Alloh; Beramal karena riya’ dan sum’ah; Menyelisihi Al-Qur’an dan as-Sunnah baik dalam perbuatan atau pun keyakinan; Taat kepada manusia dalam rangka maksiat kepada Alloh; Fanatik terhadap kebatilan; Mengolok-olok ayat-ayat Alloh, menentang kebenaran; Menyembunyikan sesuatu yang seharusnya disampaikan baik ilmu maupun kesaksian; Sihir; Durhaka kepada kedua orang tua; Membunuh jiwa yang diharamkan Alloh kecuali secara haq; Memakan harta anak yatim; Riba; Lari dari medan pertempuran; Menuduh berzina wanita baik-baik dan terjaga kehormatannya; Melakukan zina atau liwath; Ghibah dan namimah dan lain-lain yang telah di jelaskan keharaman-nya di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Barang siapa yang menjauhinya, maka berarti ia telah menempuh jalan keselamatan, dan barang siapa yang menerjangnya, maka berarti ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam kehinaan dan penyesalan.

Rasululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam Neraka, maka beliau menjawab, “Mulut dan Kemaluan.” [HR. At-Tirmidzi dan ia menyatakan hasan]. Hadits ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa menjaga dua anggota badan tersebut agar termasuk orang-orang yang selamat dari api Neraka.

Cara Menyelamatkan Diri dari Neraka

Alloh karena rahmat-Nya menjelaskan jalan-jalan keselamatan dari siksa Neraka. Alloh menunjukkan jalan yang harus ditempuh agar seseorang tidak terjerumus ke dalamnya. Cara yang paling penting adalah sbb.

• Memurnikan Tauhid kepada Alloh

Mari kita perhatikan sabda Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam berikut ini,
“Sesungguhnya Alloh telah mengharam-kan neraka bagi orang yang mengucap-kan “La ilaha illAlloh,” karena semata-mata mengharap wajah Alloh.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Dan dalam hadits yang lain Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam juga telah bersabda,
“Wahai anak Adam, sesungguhnya selagi kalian mau berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam meskipun dosamu itu sampai ke awan di langit kemudian kamu mau minta ampun kepada-Ku maka aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam kalaupun engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi dan engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, maka Aku akan mendatangkan kepadamu sepenuh bumi ampunan.” [HR. At-Tirmidzi dan dia berkata hadits hasan shahih].

Itulah jaminan ampunan bagi yang menauhidkan (mengesakan-Nya). Tidak menyekutukan-Nya dalam berdo’a, ibadah, nadzar, roja’ (berharap), istighotsah, tawakkal, pengharapan dan ketakutan, juga di dalam memutuskan perkara, padahal ia tahu akan tuntutan tauhid berupa mengesakan Alloh dalam seluruh ibadah serta menjauhi segala kemusyrikan dengan berbagai macam dan bentuknya.

Alloh Subhannaahu wa Ta’ala telah berfirman,
Katakanlah, “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam, tiada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh)”. [QS. Al-An'am: 162-163]

Maka tauhid yang murni yang tidak tercampuri dengan kemusyrikan, baik yang besar maupun yang kecil adalah syarat mutlak untuk keselamatan seseorang dari Neraka.

Tauhid yang murni membuahkan ketaatan kepada Alloh dan ketundukan terhadap-Nya. Karena tauhid dan iman tempatnya di hati. Apabila tauhidnya bagus, maka seluruh perbuatan anggota badan akan ikut bagus pula. Maka apa yang diperintahkan oleh Alloh akan segera dilaksanakannya, selalu taat, mengikuti dan takut kepada-Nya.


• Senantiasa Bertaubat

Alloh telah menjadikan taubat sebagai kunci kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Dia berfirman,
“Dan bertaubatlah kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur: 31]

Dalam ayat ini Alloh mengaitkan antara keberuntungan dengan taubat. Artinya bertaubat dari perbuatan yang tidak baik adalah salah satu jalan keselamatan dari api Neraka. Manusia meskipun telah berusaha sekuat tenaga untuk berbuat kebaikan, tetap saja ia memiliki sisi kekurangan dan kelemahan, baik yang disadari atau tidak, hal ini merupakan sunnatulloh. Maka jalan yang terbaik adalah selalu membiasakan bertaubat dan mohon ampun kepada Alloh.

Sumber : Kutaib, “Kaila Tuhsyaru fil Jahim” al-Qism al-Ilmi Darul Wathon.

Sabtu, 28 Februari 2009

DAHSYATNYA NERAKA

MAKANAN DAN MINUMAN DI NERAKA
  1. Pohon ZAQQUM, mayangnya seperti kepala syetan, tumbuh dibawah dasar neraka jahim, setiap yang memakannya, maka ususnya akan terburai (QS. Ash-Shaffat : 26-28).
  2. Pohon DHARI', yaitu pohon duri yang sangat keras tidak dapat menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar karena ia menyumbat tenggorokan, tidak keluar tidak juga masuk kedalam perut, demikian menurut Ibnu Abbas (QS. Al-Ghasiyah : 6).
  3. GHISLIN, yaitu nanah bercampur darah yang keluar dari tubuh penduduk neraka (QS. Al- Haqqah : 35-37).
  4. AL-HAMIM, yaitu air yang sangat panas yang akan disuguhkan dengan besi panas yang ujungnya dibengkokkan (QS. An-Naba' : 24-25).
  5. AL-GHASSAQ, yaitu air yang sangat dingin. Menurut Ibnu Umar ia adalah nanah kental yang jika setetesnya ditumpahkan di barat bumi, maka penduduk timur akan mencium baunya yang sangat busuk.
  6. ASH-SHADID, yaitu air nanah bercampur darah. Ibnu Rajab berkata, air shadid akan membuat wajah mereka hangus, sekaligus membuat seluruh kulit kepala dan rambutnya mengelupas (QS. Ibrahim : 16).

PEMANDANGAN DI NERAKA JAHANNAM

  1. Di jahannam terdapat sebuah gunung api "SHU'UDA" yang Allah memerintahkan orang kafir (Al Walid bin Mughirah) untuk mendakinya (QS. Al-Muddatstsir :17). Menurut riwayat Imam Ahmad, setiap kali dia meletakkan tangannya diatas gunung tersebut, maka tangannya langsung meleleh dan apabila diangkat akan kembali seperti semula. Dia akan menghabiskan waktu selama 70 tahun untuk mendakinya dan menuruni selama 70 tahun juga.
  2. Di jahannam juga terdapat lembah AL GHAYY, yaitu lebah didasar jahannam yang dialiri nanah bercampur darah dari para penghuni neraka. Lembah ini disediakan Allah kepada mereka yang meremehkan shalat dan mengkuti syahwatnya (QS. Maryam :59).
  3. Juga lembah ATSAM yang berisi ular dan kala jengking, adzab didalamnya berlipat-lipat. Lembah ini diperuntukkan bagi mereka yang berbuat syirik, berzina dan membunuh jiwa tanpa hak (QS. Al-Furqan : 68).
  4. Ada juga lembah MAUBIQA yang berisi nanah didalam neraka jahannam. Allah menyiapkannya untuk para penyembah berhala (QS. Al-Kahfi : 51-52).
  5. Ada juga sebuah rumah yang bernama AL-FALAQ, Ibnu Majah mengatakan jika pintunya dibuka, maka seluruh penduduk neraka akan menjerit karena tidak mampu menahan panasnya. Wallahu a'lam.
  6. Di jahannam juga terdapat penjara "BULAS" dimana orang-orang yang menyobongkan diri akan digiring seperti semut kecil berbentuk manusia, mereka diselimuti dengan kobaran api dan terbenam dalam keringat dan nanah yang bercampur darah penduduk neraka (HR. Ahmad, Hasan).
  7. Belenggu jahannam. Didalam jahannam ada 3 belenggu : AL-AGHLAL, yaitu belenggu dari besi membara yang dipasang dileher penduduk neraka (QS. Saba' : 33), AL-ASHFAD, yaitu tali api yang sangat kuat sehingga membuat seseorang tidak berdaya (QS. Ibrahim : 49), dan AS-SALASIL, yaitu rantai besi yang panjang 70 hasta (QS. Al-Haqqah : 32).
  8. Cambuk jahannam. Allah berfirman :"dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi (QS. Al-Hajj : 21).

PAKAIAN DIDALAM NERAKA

  1. Pakaian dari QATHIRAN yang terbuat dari tembaga yang dilebur (QS. Ibrahim : 49-50).
  2. Tikar dan selimut api (MIHAD dan GHAWASY) (QS. Al-A'RAF : 41).